investasi emas

Investasi emas, apakah menguntungkan? Sebelum kita memutuskan untuk menjual atau membeli emas atau logam mulia, pahami terlebih dahulu apa yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga emas secara fantastis belakangan ini.

Per hari Jumat tgl 16 Agustus 2019, harga emas atau logam mulia mencapai harga tertinggi sepanjang sejarah yaitu Rp 717.000 per gram. Dan mendadak, salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya adalah: Apakah sebaiknya emas yang sudah dimiliki dijual saja? Take profit gitu? Atau justru sekarang adalah saat yang tepat untuk investasi emas?

Dalam satu hari dari hari Kamis ke Jumat, kenaikan terjadi sebesar Rp 7.000 (0,99%) dari Rp 710.000/gram ke Rp 717.000/gram. Dan harga jual kembali malah dipatok Rp 694.000/gram, tetap tertinggi dari harga biasanya.

Kalau kita sering sering membaca berita politik, tentunya kita tahu kalau kenaikan harga emas atau logam mulia itu terjadi karena sentimen global yang semakin membara antara Amerika Serikat dan China. Nggak lain akibat campur tangan Amerika Serikat (AS) terhadap masalah Hong Kong yang mengusik pemerintahan China.

Hal ini berdampak pada naiknya harga emas Antam yang mengekor harga emas di pasar spot global. Jadi, nggak hanya harga saham lokal. Harga emas per troy ounce juga menguat kemarin karena cuitan Presiden AS Donald Trump yang mengompori demonstran Hong Kong, Kamis malam. Harga emas di pasar spot global kemarin sudah mencapai US$ 1.522,95 per troy ounce, naik 0,45% dari US$ 1.516 per troy ounce pada hari sebelumnya. Sementara hari Jumat lalu, harga emas di pasar spot masih turun tipis sebesar 0,06% menjadi US$ 1.522,07 per troy ounce.

(Sumber : CNBC Indonesia )

Nah terlepas dari gunjang-ganjing politik dunia, sebenarnya apakah menguntungkan kalau sekarang ini kita mulai melirik investasi emas, atau sebaiknya malah menjual?

Pada tahun 2001-2012, kalau kita memiliki emas, maka kita akan merasakan kenaikan cantik dan profit sedikitnya 480%. Namun memasuki tahun 2014-2015, kenaikan harga logam mulia menjadi tidak signifikan, bahkan cenderung turun sampai -5%. Baru karena terkait issue global saja maka harga logam mulia menjadi naik sangat signifikan dibanding tahun tahun sebelumnya.

Jadi, apakah logam mulia atau emas layak untuk dijadikan investasi? Tentu. Tapi, pahami dulu hal-hal berikut :

1. Emas batangan dan emas perhiasan adalah 2 hal yang berbeda

Logam mulia atau emas batangan di Indonesia memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh Antam atau UBS. Ini loh yang biasanya dijadikan patokan harga per gram kalau kita melihat di website atau berita harga emas. Harga 1 gram emas batangan akan berbeda dengan harga 100 gr emas batangan, karena ada ongkos cetak dan sertifikat yang dibebankan. Sehingga, jangan heran kalau membeli 1 gr logam mulia akan terasa lebih mahal.

Sementara itu, emas perhiasan adalah logam mulia yang sudah dibentuk menjadi perhiasan, seperti gelang, kalung, cincin dan lain lain. Emas perhiasan tidak bisa dimasukkan sebagai bentuk investasi. Hal ini dikarenakan harga emas perhiasan yang akan berkurang minimal 30% dari harga beli dengan adanya ongkos pembuatan perhiasan dan kadar emas yang tidak standar, berbeda dengan standar kadar emas di dalam emas batangan.

Jadi apabila Anda ingin berinvestasi, sebaiknya ke dalam bentuk emas batangan, bukan emas perhiasan.

Baca Juga: 7 Keuntungan Berinvestasi Reksadana Untuk Pemula

2. Kenaikan harga emas dipengaruhi oleh banyak faktor

Harga CPO, USD terhadap Rupiah, volatilitas Dow Jones, Yen Jepang, harga minyak dunia, adalah sedikit dari faktor yang mempengaruhi harga emas. Yang lucunya lagi, perang dagang antara Amerika Serikat dan China, ditambah lagi dengan tweet-nya Mr. Donald Trump bisa menjadi tambahan faktor dari apa saja yang mempengaruhi kenaikan harga emas.

Satu hal yang menarik, kenaikan harga emas dunia tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga emas lokal. Dengan kata lain, harga emas dunia per troy ounce itu sebenarnya sudah naik sejak lama dan lebih tinggi apabila dibandingkan dengan harga emas lokal. Tapi, baru-baru ini saja harga emas kita “terpaksa ngikut” untuk mengimbangi harga pasar.

3. Emas batangan bersifat likuid sehingga mudah dijual kembali

Mulai dari toko emas di pasar, Pegadaian, sampai Antam sekalipun, akan dengan senang hati membeli kembali emas batangan yang Anda miliki. Mengenai harga, tentunya bisa bersaing dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Emas batangan ideal untuk dijadikan sebagai penyimpanan dana darurat, karena kenaikannya tidak signifikan dan dipengaruhi oleh banyak faktor, tapi konsisten. Emas batangan juga bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif investasi, namun baru akan terlihat apabila disimpan dalam kurun waktu yang lebih dari 10 tahun. Dan memang sebaiknya emas batangan juga dijadikan bagian dari diversifikasi investasi, kalau Anda sudah memiliki produk investasi lain seperti reksadana, saham atau properti.

Masih ada pertanyaan seputar investasi? Silahkan hubungi Arkana via WA di 08111856111, Instagram @arkana.finance atau e-mail ke info@arkanafinance.com.