saham syariah

Ada lebih dari 617 perusahaan yang sahamnya beredar di Bursa Efek Indonesia. Ada yang berupa saham syariah, dan ada yang berupa saham non syariah. Oleh karena itu, tidak benar kalau dibilang investasi saham adalah hal yang tidak syariah.  Bursa Efek Indonesia sendiri memiliki klasifikasi yang membedakan saham konvensional dan saham syariah, dengan aturan yang dibuat oleh DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional- Majelis Ulama Indonesia) bekerjasama dengan BAPEPAM-LK, yaitu dengan menerbitkan DES (Daftar Efek Syariah).

Daftar Efek Syariah (DES) adalah kumpulan Efek yang tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal, yang ditetapkan oleh Bapepam-LK atau Pihak yang disetujui Bapepam-LK. DES tersebut merupakan panduan investasi bagi Reksa Dana Syariah dalam menempatkan dana kelolaannya serta juga dapat dipergunakan oleh investor yang mempunyai keinginan untuk berinvestasi pada portofolio Efek Syariah atau saham syariah. Saat ini, ada 419 saham syariah yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, yang ditetapkan melalui DES periode I tahun 2019 ditetapkan melalui Surat Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-29/D.04/2019 tentang Daftar Efek Syariah, yang berlaku 1 Juni 2019 sampai dengan 30 November 2019.

Ada juga JII atau Jakarta Islamic Index, yang memuat indeks saham-saham syariah yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Beberapa perusahaan yang tergabung dalam JII antara lain adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPS), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).

Baca Juga: 9 Jurus Jitu Investasi Saham Untuk Pemula

Namun, sebelum memilih saham syariah sebagai alternatif investasi, pahami dulu beberapa aturannya sebagai berikut:

  1. Membuka atau memiliki akun sekuritas syariah

Dengan memiliki akun sekuritas berbasis syariah, maka sistem secara otomatis memfilter saham-saham non syariah. Dengan demikian, tidak perlu takut salah memilih saham karena sudah ada sistem yang memfilter.

2. Tidak boleh ada margin atau utang

Salah satu kelebihan dari akun sekuritas konvensional adalah kita bisa mempergunakan margin atau talangan dana yang biasa diberikan oleh perusahaan sekuritas tempat kita membuka akun, sebanyak sedikitnya 3 kali lipat dari dana awal yang kita miliki. Margin atau dana talangan ini biasanya harus dibayarkan T+2 sejak kita pinjam.

Contoh penggunaannya, misalnya ada saham dengan harga bagus yang ingin kita beli, namun karena takut kehilangan momen karena butuh waktu untuk mentransfer, maka kita diperbolehkan menggunakan margin ini. Namun, hal ini tidak berlaku pada akun sekuritas syariah karena berinvestasi dengan margin tidak diperbolehkan secara syariah.

3. Bersifat “real time”

Akun sekuritas syariah bersifat “real time”. Akun sekuritas konvensional juga memang bersifat real time saat membeli saham, tapi untuk pembayarannya masih bisa dilunasi di T+2 dan pada saat penjualan, dana baru akan masuk ke rekening kita setelah T+2. Sementara itu, di akun sekuritas syariah, dana keluar dan masuk di saat itu juga, sehingga sebenarnya lebih sederhana dan sesuai dengan prinsip syariah.

4. Halal

Halal yang dimaksud di sini adalah perusahaan yang terdaftar sebagai saham syariah tidak memproduksi atau menjual sesuatu yang haram menurut ajaran agama Islam seperti menjual daging babi / minuman keras / bisnis hiburan yang berbau pornografi, bersifat merugikan orang banyak / mudarat (rokok), bersifat riba (ada bunga), bukan judi (maysir), perdagangan yang tidak disertai penyerahan barang, perdagangan dengan penawaran dan permintaan palsu (bay al najsy), jual beli mengandung ketidakpastian (gharar) dan spekulatif, serta transaksi suap (risywah). Selain itu, pihak perusahaan juga wajib melakukan penyisihan dari hasil laba perusahaan untuk disedekahkan.

Jadi, tidak perlu khawatir lagi karena saham syariah yang bisa masuk ke dalam daftar DES tentunya sudah melewati pengawasan yang ketat. Satu hal yang juga perlu diingat, saham syariah sebaiknya digunakan untuk investasi jangka panjang, yaitu untuk tujuan keuangan dengan jangka waktu lebih dari 5 tahun. Selain untuk meminimalisir resiko, hal ini juga ditujukan agar kita bisa mendapatkan hasil yang lebih maksimal.