risiko investasi

5 jenis resiko dalam investasi. Apa sajakah itu?

Apabila seseorang berkata investasi itu tidak ada yang aman, itu benar, namun tidak berinvestasipun lebih tidak aman lagi, karena adanya faktor inflasi. Hal ini bukan berarti resiko “tidak aman” dalam investasi itu tidak bisa diminimalisir. Maksud dari kata investasi tidak ada yang aman adalah bukan berarti uang akan hilang. Adanya resiko yang menyertai dalam setiap investasi berarti suatu instrument investasi yang kamu miliki bisa mengalami kenaikan atau penurunan harga. Dan ternyata, resiko inilah yang akan mempengaruhi, bagaimana nasib nilai rupiah kita ke depannya.

Nah, sebelum kamu ketakutan duluan dalam berinvestasi, kenali dahulu 5 jenis resiko dalam
berinvestasi. Apa saja sih?

1. Issue global yang mempengaruhi harga pasar

Perekonomian Indonesia tidak terjadi dengan sendirinya. Ada pengaruh pasar yang dapat mempengaruhi apakah harga suatu barang atau instrument investasi akan naik atau turun. Hal ini dipengaruhi oleh issue domestik maupun issue global. Lima issue global yang penting dan pasti mempengaruhi harga pasar adalah: Kebijakan the Fed, nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah, harga emas dunia, harga minyak dunia, dan market Dow Jones.

Jadi, kalau kamu sering baca rupiah lagi terpuruk atau rupiah lagi perkasa, kurang lebih ini faktor-faktor inilah yang mungkin mempengaruhi keaddan saat itu. Oleh sebab itu perlu diperhatikan apakah bisnis atau usaha yang kamu jalankan sudah memiliki pintu belakang dalam menyikapi hal ini atau belum. Tidak selalu issue global ini mempengaruhi investasi yang kamu miliki secara negatif. Jangka pendek mungkin iya, tapi untuk jangka panjang, mungkin kamu malah diuntungkan.

2. Inflasi

Inflasi atau kenaikan harga-harga barang tidak bisa dihindari. Biasanya kenaikan harga ini akan lebih besar dari kenaikan gaji, tingkat suku bunga, dan tabungan yang kamu miliki. Kamu tentunya sering mendengar kalau inflasi tahun ini Cuma 5% (misalnya), tapi realita di lapangan, bubur ayam langganan kamu naikin harga Rp. 2000 perak dari tahun lalu. Itu kan lebih dari 10%.

Jadi kalau kamu memutuskan untuk hanya berinvestasi di instrument keuangan seperti tabungan dan deposito, maka bisa dipastikan uang kamu nggak akan bisa berkembang apalagi menyaingi kenaikan harga bubur ayam depan rumah. Mau tidak mau, kamu harus belajar atau mulai berinvestasi sejak dini.

Dengan memahami bahwa inflasi itu ada, kamu juga diharapkan akan bisa mengatur dan mengantisipasi mengenai managemen resiko, akan apa yang bisa kamu lakukan kalau inflasi ini terjadi.

3. Issue politik

Salah satu hal yang pasti mempengaruhi perkembangan ekonomi suatu negara adalah issue politik. Baik sesederhana pemilihan presiden untuk negara tertentu, sampai konflik kemanusiaan dan perang, semuanya dapat mengacaukan perkembangan ekonomi suatu negara.

Sebaik apapun investasi yang kamu lakukan, dengan produk-produk terbaik sekalipun, tidak akan ada artinya apabila issue politik ini menjadi masalah. Namun bukan berarti masalah ini tidak dapat diantisipasi. Kadang mau ganti presiden beberapa kali sekalipun, kamu tetap memakai shampoo yang sama ‘kan sejak 20 tahun lalu? Atau musim hujan begini masih suka makan mie instan itu ‘kan? Ada yang nggak berubah tapi terus berkembang. Jadi kamu bisa memilihnya sebagai investasi pilihan kamu karena kamu tahu, produk itu akan masih bisa bertahan 10-20 tahun berikutnya.

4. Force majeure atau bencana alam

Salah satu kejadian yang sangat tidak bisa diprediksi adalah bencana alam. Tentunya segala bentuk asset dan investasi akan terganggu dengan adanya bencana alam ini. Baik berupa banjir, gempa bumi, atau gunung meletus. Banjir yang berkepanjangan akan bisa melumpuhkan ekonomi suatu negara akibat longsor yang mungkin terjadi, atau kendaraan yang tidak bisa lewat karena banjir itu sendiri. Akibatnya, ekonomi tersendat. Dan yang lebih parah lagi, gagal panen yang terjadi akibat hujan yang berkepanjangan, akan bisa membuat supply yang kurang dan demand yang tinggi, berakibat naiknya harga-harga barang sehingga inflasi tidak dapat dihindari.

5. Resiko Pasar

Resiko pasar bisa terjadi karena menurunnya nilai suatu investasi karena pergerakan pada faktor faktor pasar. Atau, ada suatu kebijakan yang mempengaruhi harga pasar, sehingga nilai investasi menurun. Contoh, kebijakan bank menaikkan suku bunga. Akibat dari kenaikan suku bunga, maka bunga pinjaman pasti meningkat, bunga kepemilikan rumah dan kendaraan bermotor juga meningkat, dan hal ini menyebabkan daya beli biasanya menurun. Kalau daya beli menurun, beresiko pada ekonomi stagnan atau ikutan turun.

Dengan menyadari ada hal-hal yang bisa menimbulkan resiko keuangan, maka diharapkan kamu akan bisa mengantisipasinya dengan melakukan managemen resiko. Memang pada dasarnya resiko – resiko ini tidak bisa dihindari, tapi bisa disiasati. Cara sederhana yang bisa kamu lakukan adalah dengan memperpanjang waktu investasi dan melakukan diversifikasi.#