manajemen risiko

Manajemen risiko atau mengelola risiko investasi adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan timbulnya risiko yang menyebabkan kerugian. Kita tentunya tidak mau rugi dong kalau berinvestasi. Risiko memang tidak dapat dihindari, namun bukan berarti tidak bisa diantisipasi.

Dengan memahami resiko, kita akan tahu apa yang sebaiknya kita lakukan kalau portofolio investasi sedang merah. Berikut 5 hal yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan risiko kerugian, agar uang yang diinvestasikan tidak hilang:

1. Pergunakan uang dingin

Jangan pernah berinvestasi dengan mempergunakan uang dapur, apalagi berutang. Godaan untuk berinvestasi saham dari teman – teman yang “berhasil” mendapatkan keuntungan memang sangat menggoda. Tapi percaya deh, saat mereka mengalami kerugian, pasti diam-diam saja. Pastikan kamu memiliki cash flow yang positif dan memiliki dana darurat sebelum memulai investasi. Dengan demikian, kamu nggak akan mudah terjebak dengan investasi yang salah.

2. Berinvestasi sejauh isi dompet

Investasi tidak selalu menyehatkan, apalagi kalau dilakukan berlebihan dan menyita pikiran. Kalau kita sudah nggak bisa tidur karena investasi yang dilakukan,mengalami ketergantungan alias adiksi untuk trading, sebaiknya berhenti dahulu karena investasi sudah menjadi hal yang nggak sehat. Mungkin kamu sudah berinvestasi secara berlebihan, menggunakan utang, uang dapur / kebutuhan sehari-hari, atau kamu masih trader pemula yang berharap mendapatkan penghasilan dari trading dalam waktu dekat. Hal-hal inilah yang bisa membuatmu menjadi penjudi, bukan trader. Trading membutuhkan analisa fundamental, analisa teknikal, serta pengalaman yang membutuhkan waktu dan ketekunan. Jadi, supaya bisa tidur nyenyak, berinvestasilah sejauh isi dompet, sesuai penghasilan kita, dan berapa bisa kita sisihkan untuk berinvestasi.

3. Perpanjangan waktu investasi

Beberapa instrumen investasi akan memiliki fluktuasi yang tinggi dalam jangka pendek, namun memiliki trend meningkat untuk investasi jangka panjang. Untuk itu, kita perlu menyesuaikan apakah instrumen investasi pilihan kita bisa digunakan untuk investasi jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang.

Warren Buffett sendiri membutuhkan waktu 16 tahun untuk mengubah US$5,000-nya yang pertama menjadi US$1,000,000, dan 50 tahun tambahan untuk mengubah US$1,000,000-nya yang pertama menjadi US$ 60 billion. Jadi, investasi memang butuh waktu. Dengan perpanjangan waktu, kita akan bisa mengoptimalkan hasil investasi yang kita dapatkan.

4. Diversifikasi

Penjelasan paling mudah tentang diversifikasi adalah tidak menaruh uang kita ke satu jenis investasi saja, untuk meminimalisi risiko di satu jenis instrumen investasi. Kalau kita berinvestasi reksadana, berinvestasilah di reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana saham. Dalam reksadana sendiri, sebenarnya investasi yang dilakukan sudah didiversifikasi ke berbagai instrumen sesuai porsinya. Jadi, kalau kita sudah punya reksadana saham, penting juga untuk kita punya reksadana campuran atau reksadana pendapatan tetap.

Nah, kalau kita berinvestasi di saham, penting juga untuk kita punya investasi di instrumen lain seperti ORI, reksadana dan logam mulia. Saham sendiri terbagi ke dalam 10 sektor, misalnya sektor perbankan, consumer goods, konstruksi, dan lain-lain. Jangan berinvestasi hanya di satu sektor saja, tapi lakukan diversifikasi dengan investasi ke beberapa sektor.

5. Top up

Salah satu cara manajemen risiko investasi yang sering menuai pro dan kontra adalah top up, atau menambah porsi investasi pada saat portfolio investasi sedang merah atau merugi. Sebelum melakukan top up, pastikan dulu kita memahami analisa fundamental. Misalnya dalam investasi saham, kita tahu berapa nilai wajar dari saham sebuah perusahaan, bagaimana kinerja perusahaan tersebut, sehingga kita juga tahu arah pergerakan sahamnya dalam jangka panjang.

Jadi, apabila sebuah perusahaan memiliki fundamental yang baik, tapi karena suatu hal harga sahamnya sedang turun, maka kebijakan untuk top up adalah langkah yang benar, karena kita tahu harganya bakal naik dan harga sekarang adalah harga diskon. Kalau kita senang belanja barang-barang diskon, portfolio saham atau reksadana yang merah bisa diartikan sama. Artinya, suatu hari nanti harga tersebut akan kembali ke harga semula, atau malah lebih tinggi. Akan tetapi kamu harus memahami benar ya, karena tidak semua saham layak untuk di-top up. Ada beberapa saham dan reksadana yang sebaiknya dipindah atau cut loss kalau sedang merah, untuk mencegah kerugian lebih lanjut.

Apapun investasi yang kita lakukan, manajemen risiko penting untuk mencegah kerugian yang mendalam. Dengan memahami dan melakukan manajemen risiko, kita akan mendapatkan keuntungan yang baik, dan mencapai tujuan keuangan yang diinginkan.