keuangan sehat

Walau kita telah memiliki income yang rutin atau gaji tetap, tidak semua dari kita memiliki keuangan sehat. Gaya hidup serta kebiasaan kecil mentraktir atau membeli gorengan dan cemilan lain bisa jadi bocor halus berbahasa yang menggerus income. Jadi apakah tanda-tanda sederhana kita memiliki keuangan sehat?

    1. Memiliki Cash Flow yang Positif
      Sederhana saja, cash flow yang positif artinya pendapatan kita masih jauh lebih besar daripada pengeluaran kita. Tapi hati-hati, gaya hidup dan kebiasaan ‘jajan’ bisa menghadirkan bocor halus yang justru malah membuat cash flow kita negative alias selalu kurang atau sudah habis duluan sebelum gaji berikut.Perhatikan pengeluaran, perhatikan gaya hidup kita. Kita tidak harus memaksakan diri untuk ‘fit in’ dalam gaya hidup yang berlebihan sehingga kita harus menangisi gaji yang kurang. Padahal, gaya hidup yang tidak sesuailah penyebabnya.
    2. Tidak Ada Hutang Konsumtif
      Ada 2 jenis hutang yang perlu kita ketahui di sini, yaitu hutang produktif dan hutang konsumtif.Hutang produktif adalah hutang atau pinjaman yang kita buat untuk menambah nilai asset yang kita miliki dan barang atau benda yang kita beli memiliki penambahan nilai atau value. Contoh : kepemilikian property baik rumah maupun apartemen dengan system KPR/KPA. Atau kredit kendaraan bermotor yang kemudian kita sewakan atau kita pakai lagi untuk menghasilkan income tambakan seperti jasa sewa mobil, atau gojek/ojek. Sementara hutang konsumtif adalah hutang yang kita buat hanya untuk kesenangan pribadi dan tidak memiliki nilai produktif. Contoh penggunaan kartu kredit untuk membeli tas, sepatu, gadget dan lain-lain, namun kita tidak melunasi tagihannya secara penuh setiap akhir bulan, sehingga meninggalkan sisa hutang dengan bunga tinggi, dan jangan heran kalau suatu hari nanti kita bahkan tidak akan mampu membayar tagihan minimalnya. Hutang konsumtif tidak selalunya buruk, bahkan kalau kartu kredit dipergunakan secara bijak bisa menjadi partner keuangan yang baik. Lunasi hutang kartu kredit sehingga kita tidak perlu membayar bunganya yang melilit.
    3. Memiliki Dana DaruratDana darurat adalah dana yang kita sisihkan untuk kondisi kondisi darurat atau yang tidak terduga.Contoh: apabila penghasilan kita terhenti karena PHK, atau adanya kebutuhan yang membutuhkan pengeluaran extra diluar pengeluaran rutin  seperti misalnya ada saudara atau orangtua yang sakit, mobil mendadak rusak (kalau ternyata mobil tidak dicover asuransi), dan lain-lain.Besaran dana darurat bervariasi tergantung kondisi. Untuk single, yaitu di mana kita hanya menanggung diri sendiri, dana darurat yang dianjurkan kita miliki adalah sebesar 3 bulan gaji atau pendapatan. Dengan asumsi dalam 3 bulan kita sudah memiliki pekerjaan baru.Pasangan menikah tanpa anak, atau single dengan tagungan, dana darurat yang dianjurkan adalah sebesar 6 bulan gaji. Single dengan tanggungan yang dimaksud di sini adalah apabila kita belum menikah, namun sudah mensubsidi orang tua atau adik, maka kita termasuk dalam kategori single dengan tanggungan.Pasangan yang menikah dan memiliki anak, sebaiknya memiliki 8-12 bulan simpanan dana darurat, dengan pertimbangan kita akan masih mampu membayar uang sekolah anak-anak sampai 12 bulan ke depan secara aman.Kalau kita belum memiliki dana darurat, kita tidak harus memenuhinya sekaligus. Tabungan dana darurat bisa kita cicil sampai memenuhi kebutuhan, namun baiknya disegerakan bukan malah sengaja diperlama mengingat kita juga masih ada kebutuhan lain yang lebih penting.

      Datangnya kemalangan atau kebutuhan darurat tidak bisa kita prediksi. Bukankah lebih baik kita mempersiapkannya sedini mungkin daripada menyesal kemudian?

    4. Dahulukan Investasi Sebelum Pengeluaran Lain
      Kesalahan utama yang sering kita lakukan adalah selalu mendahulukan pengeluaran rutin dan tidak rutin, baru setelah ada sisa, kita memikirkan investasi. Kenyataannya di lapangan adalah: sisa itu tidak pernah ada. Pasti selalunya ada keperluan dan keinginan yang mendesak atau keinginan yang tadinya tidak penting menjadi penting.Untuk menghindari hal seperti ini, baiknya kita berinvestasi terlebih dahulu sebelum mengeluarkan pengeluaran rutin dan tidak rutin. Hal ini bisa membuat kita ‘tidak merasa bersalah’ ketika menghabiskan uang bulanan, karena toh kita telah menyisihkannya di awal untuk berinvestasi terlebih dahulu.Investasi walau sedikit, akan jauh lebih besar manfaatnya daripada tidak berinvestasi sama sekali. Dan kita tidak pernah akan tahu siapa yang kita selamatkan 5-10 tahun mendatang, dengan investasi yang kita lakukan sekarang.
    5. Memiliki Tujuan Keuangan
      Kalau kita tidak memiliki tujuan keuangan yang spesifik, bagaimana kita bisa tahu target keuangan kita sudah tercapai atau tidak? Memiliki pengetahuan mengenai investasi tanpa memiliki tujuan keuangan yang spesifik sama saja seperti memiliki kendaraan dengan bensin full tank, GPS lengkap dengan peta, tapi mobilnya ga bisa jalan, karena ga ada tujuan.

Petapun ga akan berguna untuk kita kalau kita sendiri ga tahu mau ke mana bukan? Dan tujuan sesederhanapun tetap menjadi tujuan keuangan yang baik daripada tidak ada tujuan.

Start simple start small, at lease we start something than nothing.

 

FIONEY SOFYAN, S. Ked., RFA
A financial enthusiast who loves writing and running,
and dreaming one day can participate in 6 World Marathon Major